Pagelaran “Tarung Bebas” kembali diselenggarakan di
Pesantren Zainul Hasan Genggong, Probolinggo, Jawa Timur, pada 30 April 2016.
Ajang ini bakal menjadi wahana unjuk kebolehan para petarung di atas ring
dengan disaksikan puluhan ribu penonton.
Dibanding pertunjukan silat lainnya, tarung bebas terbilang
istimewa lantaran tak mengandung unsur rekayasa. Pesertanya pun tidak khusus
pendekar dari perguruan silat. Para petarung bisa siapa pun, mulai dari preman,
santri, tukang becak, dan lainnya. Para pesilat tidak hanya dari kalangan
Pencak Silat NU Pagar Nusa tetapi juga dari Setia Hati, Tapak Suci, Taekwondo,
Wing Chun, Boxing, dan lain sebagainya.
Pesantren Zainul Hasan selaku tuan rumah telah mempersiapkan
acara ini sejak jauh-jauh hari. Rencananya, acara tarung bebas dimulai pukul
18.00 hingga 24.00 WIB di halaman P5, pesantren asuhan Ketua PWNU Jatim itu.
Sistematika pertandingannya, dua petarung berjibaku di atas
ring tinju, malam itu. Beberapa kali mereka harus bergelut di pojok ring.
Berkelit lalu menyerang balik. Melepaskan jotosan. Tendangan keras dan
membanting lawan. Menyajikan pertarungan brutal namun tetap sportif dan
bersahabat. Sesuai dengan motonya "Di Atas Lawan, Di Bawah Kawan".
Dilengkapi dengan ring tinju setinggi 2 meter, para petarung
tidak menggunakan body protector (pengaman badan) ataupun head protector
(pengaman kepala). Sasaran serangan bebas sebebas-bebasnya. Hanya ada dua
aturan dalam pertarungan ini. Pertama, tidak boleh menggunakan senjata, jimat
dan aji-ajian. Artinya, hanya dengan tangan kosong. Kedua, lawan harus
seimbang.
Di atas ring ada 3 orang pendekar senior yang didaulat
menjadi wasit. Wasitlah yang menentukan imbang tidaknya petarung, dan wasit
juga yang menentukan kapan pertarungan dihentikan.
Panitia sendiri menyiapkan tim medis lengkap dengan ambulans
jika didapati peserta yang terluka dan cedera. Serta pengaman dari Pagar Nusa
jika dikhawatirkan terjadi tawuran. Selama pertandingan berlangsung, iringan
musik tradisional gamelan dan gendang bergema. Itu dilakukan agar suasana
antarpesilat yang bertarung tidak memanas.
Ketua Panitia Pelaksana, Moh Haris Damanhuri mengatakan,
pesilat yang ikut bertarung tidak hanya dari Jawa Timur tapi juga sejumlah
daerah lain di Tanah Air, seperti Lampung.
“Pertarungan ini ada historinya. Seiring perkembangan zaman,
seni bela diri ini dijadikan ajang persahabatan dan merekatkan tali
persaudaran. Tidak ada hadiah yang dikejar di sini, selain itu para pesilat
diharapkan tetap menjaga sportivitas sepanjang pertandingan,” pungkas Gus
Haris.
Almarhum KH Maksum Jauhari, pengasuh Pondok pesantren
Lirboyo, Kediri, merupakan pelopor pertarungan khas NU Jawa Timur ini. Konon,
asal usul tarung bebas ini Berawal dari banyaknya kasus tawuran antar Perguruan
Silat di Jawa Timur, begitu juga banyaknya kasus pengeroyokan bagi orang yang
lemah serta kasus premanisme. Hingga akhirnya kiai berambut Gondrong ini
berinisiatif mengadakan pertarungan bebas di atas ring agar keberanian itu
tidak hanya di luar tetapi hasrat dan nafsu tawuran itu tersalurkan di atas
ring.
CP:
Fawaid (085203949345)
Faqih (085231313745)
No comments:
Post a Comment